JAMBI, 02.03.2026 – Sebuah teka-teki besar kini tengah menggelayuti langit birokrasi Kota Jambi. Di tengah riuh rendah pelaksanaan Job Fit (Uji Kompetensi) bagi 22 Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sebuah kabar “senyap” berhembus kencang: adanya pejabat yang diduga terindikasi positif narkoba. Namun, alih-alih keterbukaan, publik justru disuguhi narasi “sakit medis” yang mendadak puitis.
Siapakah sosok inisial “M” yang kini menjadi buah bibir di lorong-lorong kantor pemerintahan?
Ketua Dewan Pembina LIMBAH Provinsi Jambi, Habib Ahmad Syukri Baraqbah, menyoroti fenomena ini dengan pandangan yang tajam. Beliau mempertanyakan mengapa sebuah hasil tes yang menyangkut marwah jabatan publik harus dibungkus dalam istilah silent.
“Jika memang bersih, mengapa harus berbisik-bisik? Kita sedang mencari pemimpin yang jernih pikirannya, bukan yang butuh ‘penenang’ untuk sekadar berdiri tegak. Nama inisial ‘M’ ini sudah menjadi rahasia umum, namun seolah ada tembok tebal yang melindunginya. Apakah ini tentang kesehatan, ataukah tentang upaya menyelamatkan wajah yang mulai retak?” tanya Habib Syukri dengan nada tenang namun menggetarkan.
Ketajaman analisis LIMBAH tidak berhenti di sana. Sekretaris LIMBAH, Ruswandi Idrus, mengungkap temuan investigasi yang jauh lebih berani. Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim investigasi pimpinan Budi Harto, terdapat dugaan adanya “protokol penyelamatan” melalui jalur medis yang sangat tidak lazim.
“Kami mencium adanya skema penggunaan suntikan khusus. Menurut informasi yang kami kumpulkan, salah satu cara paling ampuh untuk mengelabui tes urine adalah dengan mendapatkan suntikan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Zat dalam obat tersebut mampu menciptakan alibi ‘false positive’ yang sah secara medis untuk menutupi jejak ‘Garam Putih’. Pertanyaannya, apakah salah satu inisial ‘M’ ini tiba-tiba memiliki riwayat medis yang mengharuskannya mencari ketenangan di sana tepat saat tes urine dilaksanakan?” ungkap Ruswandi.
Ruswandi juga menyoroti peran Sekda Kota Jambi, A. Ridwan, yang terkesan sangat defensif dengan menyebut hasil tersebut kemungkinan besar hanyalah pengaruh obat tensi.
“Sangat menarik melihat bagaimana Pak Sekda menjadi perisai bagi kadis binaannya. Namun, publik tidak amnesia. Kita masih ingat jejak pegawai berinisial AO yang dulu sempat tersandung kasus serupa, di mana dalam rekam jejak digitalnya terselip nama ‘M’ sebagai pemberi perintah belanja. Apakah ini orang yang sama? Jika iya, maka narasi ‘obat tensi’ ini hanyalah debu yang coba dilemparkan ke mata rakyat,” tambahnya.
Sebagai penutup, Habib Syukri menegaskan bahwa LIMBAH tidak akan membiarkan misteri inisial ‘M’ ini menguap begitu saja. Surat resmi akan segera dilayangkan ke BNN Provinsi Jambi untuk meminta keadilan yang lebih dalam: Tes Rambut dan Darah.
“Urine bisa dimanipulasi dengan suntikan medis, tapi rambut adalah saksi sejarah yang jujur. Kami ingin membuktikan, apakah pilar birokrasi kita dibangun di atas fondasi integritas, ataukah di atas rapuhnya ‘Garam Putih’ yang ditambal dengan alibi medis,” tutup Habib Syukri.
Dunia birokrasi Kota Jambi kini menanti. Antara transparansi yang membebaskan, ataukah perlindungan yang justru akan meruntuhkan kepercayaan publik secara perlahan.
Penulis: Kang Maman – Andrew Sihite
(Tim Media & Informasi Perkumpulan L.I.M.B.A.H Provinsi Jambi)
Pernyataan Penyangkalan (Disclaimer):
Informasi mengenai metode intervensi medis melalui penggunaan zat tertentu yang disebutkan dalam rilis ini merupakan murni hasil temuan tim investigasi berdasarkan wawancara dengan narasumber lapangan. Penyebutan fasilitas medis seperti Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dalam narasi ini merujuk pada fenomena medis secara umum mengenai karakteristik obat-obatan spesifik dan bukan merupakan tuduhan keterlibatan, pembiaran, atau praktik ilegal yang dilakukan oleh institusi RSJ Provinsi Jambi maupun tenaga medis di dalamnya. Seluruh informasi tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah hingga adanya hasil pengujian yang sah secara hukum dari pihak berwenang.





